Senin, 12 September 2011
novel filsafat
novel filsafat
Kamis, 21 April 2011
imam jafar shadiq dan filsafat
Jaber belajar dari Imam Shadiq (as) dan kemudian menjadi ilmuwan islam terkemuka. Beliau yang lebih populer disebut sebagai 'bapak kimia'. Nama Aljabar juga merupakan turunan dari nama Jaber.
"SEGALA SESUATU ITU BERGERAK"
Jabir bin Hayyan adalah murid yang senang berdiskusi dengan gurunya.
Suatu hari ketika Imam sedang mengajar filsafat, Imam mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak.
Jaber bertanya: "Apakah Anda yakin bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak?"
"Ya saya yakin." Jawab Imam Shadiq.
Jaber bertanya: "Apakah suara memiliki gerak?"
Imam berkata: "Ya, Namun kecepatan suara lebih lambat daripada kecepatan cahaya. Jika anda melihat dari kejauhan kereta luncur dari pandai besi yang jatuh di landasan dan mendengar suara sesudahnya. Hal ini karena gelombang cahaya, yang berjalan lebih cepat, mencapai mata Anda terlebih dahulu kemudian gelombang suara bergerak lambat setelah itu. "
Jaber bertanya: "Bisakah Anda menceritakan kecepatan suara?"
Imam Shadiq menjawab: "Archimedes, filsuf Yunani, yang mengukur kecepatan suara, mengatakan bahwa jika seorang laki-laki adalah 400 Zira (1 Zira = 40 inci) dari sumber suara, ia akan mendengar hal itu setelah 8 detik. Semakin besar jarak, semakin lama waktu yang diperlukan untuk mendengarnya. "
"ALLAH ADA DIMANA-MANA"
Jaber berkata: "Menurut teori Archmides akan mengambil ribuan tahun untuk para nabi untuk mendengar suara Allah, yang berada di sisi lain dari langit ke-7."
Imam menjawab: "Wahai Jabir, Allah ber Firman bahwa Ia berada di luar langit ke-7 tuk memberikan kesan kepada orang-orang biasa atas Keagungan Allah, jika tidak, Dia di mana-mana. Ketika ia ingin berbicara dengan nabi-nabi, Dia begitu dekat sehingga terdengar suara-Nya langsung dan jelas. "
Imam berkata: "Bahkan jika DIA berada di luar langit ke-7 para nabi-Nya pasti akan segera mendengar-Nya, karena Suaranya tidak seperti suara makhluk-Nya. Allah, yang menciptakan alam semesta hanya dengan mengatakan 'Kun Fa Ya Kun' tidak punya masalah berkomunikasi dengan nabi-Nya. "
"Semesta Dibuat Dalam 6 Tahapan"
Jaber bertanya: "Apakah alam semesta diciptakan dalam sekejap? Dikatakan bahwa itu diciptakan dalam 6 hari. "
Imam Shadiq menjawab: "Alam semesta ini diciptakan, tetapi berubah menjadi bentuk yang sekarang dalam waktu yang sangat lama. Pada awalnya hal itu pasti tidak seperti sekarang ini. 6 hari Allah, disebutkan dalam Quran, tidak seperti 6 hari kita. Alam semesta datang ke dalam bentuk yang sekarang dalam 6 tahap atau 6 periode. "
Jaber bertanya: "Ketika Anda mengatakan bahwa Allah di mana-mana, itu berarti bahwa Dia adalah dalam segala hal. Oleh karena itu, mereka yang mengatakan bahwa Allah dan ciptaan-Nya adalah satu, benar? Dengan kata lain, jika kita percaya bahwa Dia adalah segalanya, kita harus mengakui bahwa setiap tanaman, hewan, batu dan bintang adalah Allah. "
Imam berkata: "Kau salah. Allah dalam tanaman, hewan, batu dan bintang-bintang, tetapi mereka BUKAN Allah. Sama seperti minyak dan sumbu ada di lampu untuk menghasilkan cahaya, tetapi mereka bukan lampu. "
"Tidak Seorang Pun memiliki Kekuatan seperti Allah"
Jaber bertanya: "Jika benar bahwa segala sesuatu adalah Allah, maka segala sesuatu harus memiliki kekuatan Allah. Dapatkah mereka yang mengklaim bahwa segala sesuatu adalah Allah menghasilkan hanya dengan mengatakan, "Jadilah", bahkan satu butir pasir atau menciptakan dari setetes cairan manusia? "
Pembahasan kemudian pindah.
Imam Ja'far ash Shadiq berkata: "Wahai Jabir, apakah Anda melihat gambar di dinding? gmbar ini digambar dengan baik dengan garis(bentuk) geometris yang indah. Anda mendapatkan kesenangan dari memandanginya. Bukan karena Anda memiliki pengetahuan tentang matematika dan mengerti tentang geometri. Bahkan seorang anak-anakpun akan senang melihatnya. "
Jaber mengerti dan berkata "Kebanyakan orang tidak memahami kebenaran prinsip-prinsip agama dan kita tidak tahu bahwa mereka adalah sempurna. Itu sebabnya saya membujuk mereka untuk mendidik diri mereka sendiri, dan meningkatkan pengetahuan mereka. "
Kemudian Jaber bertanya: "Apakah tidak lebih baik jika alasan di balik prinsip-prinsip Islam itu dijelaskan dalam istilah-istilah sederhana?"
Imam menjawab: "Para ilmuwan dan filsuf harus membuktikan teori mereka dengan akal dan logika sehingga mereka dapat diterima oleh para ilmuwan dan filsuf lain."
"Mereka tidak peduli dengan orang-orang biasa, yang tidak dapat dan tidak akan memahaminya."
Imam melanjutkan : "Akan tetapi, agama adalah berbeda dari ilmu pengetahuan dan filsafat. Doktrin-doktrin agama kita yang disampaikan dalam istilah yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh semua orang. Tapi itu tidak menjelaskan mengapa mereka dikirim. "
"Allah telah memilih Nabi kita untuk menyebarkan Islam di antara semua orang. Itu semua tidak hanya dikirim untuk kaum intelektual, melainkan juga yang tidak akan mngerti dan menerima apa-apa, yang tidak perlu dibuktikan dengan logika. "
"Nabi kami mengungkapkan doktrin-doktrin agama sehingga dapat dipahami oleh semua, tetapi ia tidak memberikan alasan mengapa mereka kemudian dipaksakan sebagai rakyat biasa dan mereka tidak akan mengerti."
"Mereka yang punya otak bisa mencari tahu sendiri mengapa prinsip-prinsip tesis dirumuskan. Tapi perkembangan otak tergantung pada perolehan pengetahuan. Jadi, mereka yang ingin memahami alasan di balik prinsip-prinsip Islam perlu memperoleh pengetahuan karena ini akan mengembangkan otak mereka."
"Tetapi orang-orang yang tidak bisa memahami mereka, harus percaya pada mereka dan mengikuti mereka dengan setia. Yang akan cukup untuk keselamatan mereka. "
"Hal ini membutuhkan tekad kuat dan kerja keras untuk memperoleh pengetahuan yang memadai dalam rangka untuk mengetahui kebutuhan serta untuk mengikuti aturan Islam."
"Kebanyakan orang tidak mampu untuk itu. Mereka harus bekerja, mencari nafkah dan dukungan keluarga mereka. Dengan demikian mereka dapat melakukan sendiri dalam perdagangan dan pertanian dan hanya belajar fundamental dan peraturan sekunder Islam. "
Imam berkata: "konsep surga dan neraka sangat susah bagi orang yang buta huruf."
"Jika Anda mencoba menjelaskan kepadanya apa yang Anda mengerti dengan istilah-istilah, Anda akan membingungkan dia dan membuat imannya tergoncang. Itu mengapa lebih baik untuk berbicara dengan orang sesuai dengan kecerdasan kita."
"ALI BIN ABI THALIB MENCIPTAKAN TATA BAHASA ARAB"
"Ketika Al-Quran itu dikirim, ada kemungkinan bahwa orang-orang umum mungkin salah paham dalam memaknai ayat-ayat Nya jika mereka tidak membacanya dengan benar. Itulah sebabnya kakekku, Ali bin Abi Thalib menciptakan tata bahasa Arab. "
Jaber berkata: "Sayang sekali bahwa banyak orang tidak memahami tujuan, kebutuhan dan keharusan untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam dan tidak mengerti makna yang lebih dalam ayat-ayat Alquran."
Imam Ja'far ash Shadiq berkata: "Ini adalah kasus dalam setiap agama. Hanya sejumlah orang mengerti dengan baik hukum-hukum agama mereka. Orang-orang ini menjadi pemimpin agama dan sisanya harus mematuhi mereka. "
"Agama Islam juga sama. Hanya segelintir orang yang memahami Al Qur'an. Mereka adalah para pemimpin (imam) kaum muslimin. "
"PINTU ILMU"
Mengenai ayat mutashabihat, Allah swt dalam QS 3:7 mengatakan:
"Dan tidak ada yang mengetahui maknanya, kecuali Allah dan mereka yang berakar kuat dalam pengetahuan"
Mereka tidak lain adalah Nabi Muhammad SAWW dan para Ahlul Bait as.
Hal ini diriwayatkan bahwa Imam Shadiq berkata: "Kami adalah rasikhuna fil ilm dan kami tahu Ta'wil." [Tafsir Nur Tsaqalain]
"Quran dan Ahlul Bait"
* Dalam Hadis terkenal Tsaqalain, Nabi saww berkata: "Barang siapa yang tetap terikat pada Al-Quran dan Ahlul Bait tidak akan tersesat karena kedua hal tersebut tidak akan pernah dapat dipisahkan satu sama lain sampai mereka menemuiku di telaga Kautsar."
Dan: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbang. Allah swt mengatakan bahwa kita harus masuk ke rumah melalui pintu gerbang. Jadi siapa pun yang ingin mencari pengetahuan harus datang melalui pintunya."
Demikian percakapan antara Imam Shadiq dan muridnya Jabir berakhir..
Imam Jafar Shadiq as : A Heart of Islamic Mysticisms
Nano Warno MA
Pengantar
Kelebihan dan Karomah Imam Ja’far As-Shodiq
1.Beliau dikenal sebagai Mujtahid di bidang ilmu Fiqih. Dalam kalangan para Fuqoha’ dikenal sebagai Pendiri Mazhab kelima yakni Mazhab Fiqih Ja’fariyah.
2.Beliau dikenal sebagai Ulama dan Tokoh Sufi yang memilki Ma’rifah Laduniyah yang tinggi yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.
3 Beliau selalu menolak untuk diberi jabatan duniawi. Imam As-Syilli berkata : “pada suatu hari kalangan Bani Hasyim bermaksud akan mengangkat Muhammad dan Ibrahim bin Abdullah bin Hasan bin Abi Thalib, untuk menjadi Khalifah. Peristiwa itu terjadi, beberapa saat menjelang berakhirnya daulah Marwan.
Mereka mengirim sejumlah utusan untuk menemui Imam Ja’far As-Shodiq, dan meminta kesediaan beliau untuk diangkat menjadi Khalifah. Sesudah mereka berkumpul dihadapan beliau danmenyatakan akan membai’at beliau menjadi Khalifah, dengan tegas beliau menolak, seraya berkata :
“Demi Allah swt,jabatan itu bukan untukku dan bukan pula untuk kedua orang ini. Jabatan ini hanya untuk yang berjubah kuning itu. Demi Allah swt, mereka akan dipermainkan oleh anak-anaknya.”
Setelah itu, beliau bangkit meninggalkan majelis itu. Manshur Al-Abbasi ketika itu hadir dan memakai jubah kuning. Ucapan Imam Ja’far As-Shodiq itu ternyata benar, karena Al-Manshur belakangan diangkat menjadi Khalifah.
• Doa’ beliau makbul; jika memerlukan sesuatu, beliau mengucapkan :”Wahai Tuhan, Aku memerlukan itu”
Maka belim habis doa’nya, sesuatu yang dimaintanya sudah berada didepannya.
Al-Manawi meriwayatkan bahwa pada suatu hari Imam Ja’far As Shodiq digiring kehadapan Kholifah Al-Manshur, dengan tuduhan palsu. Seorang saksi memperkuat tuduhan itu, dengan besumpah bahwa ia telah melihat Imam Ja’far As Shodiq melakukan sesuatu. Padahal kesaksian itu tidak benar sama sekali. Belum lagi habis ucapannya, tiba-tiba saksi itu jatuh tersungkur dan mati ketika itu juga.
• Al-Laits bin Saad menyatakan :”Pada tahun 113 H, Aku mengerjakan haji di Makkah. Pada suatu hari , selesai sholat ‘Asar, aku naik ke punacak Jabal Kubis. Kulihat disitu seorang laki-laki sedang asyik berdo’a. dia mengucaokan :”Ya Allah swt , aku ingin sekali memakam buah anggur, berilah aku. Ya Allah! Sesungguhnya pakaianku sudah lusuh, berilah aku pakaian.” Belum habis doa’nya kulihat sebuah keranjang penuh berisi anggur sudah berada dihadapannya, padahal masa itu bukan musim anggur. Dan dua helai kain baju terletak pula disampingnya. Kain baju itu sangat bagus, belum pernah kulihat kain sebagus.
Imam Ja’far Shodiq as. suatu ketika didatangi seorang atheist dan berdialog dngnya.
Atheist : ‘Wahai Ja’far, apakah Tuhanmu bisa memasukkan gajah kedalam sebuah telur, tanpa gajah itu mengecil juga tanpa telur itu membesar ?’
Imam Ja’far as : “Tuhan terlepas dari kuantitas, Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu. Berapa indera yang kau miliki ?”
Atheist : ‘Ya, aku bisa melihat, aku bisa mendengar, aku bisa mencium, merasa dan bicara..’
Imam Ja’far as : “Mana yang paling kecil ?”
Atheist : ‘Mata’.
Imam Ja’far as : “Berdirilah diluar sana, dan lihat sekelilingmu. Katakan kepadaku apa yang kau lihat ?”
Atheist : ‘Ya, aku melihat pasar, aku melihat bangunan, aku melihat binatang ternak, aku melihat orang2 berjualan dsb..’
Imam Ja’far as : “Apakah kau masih berfikir ΛLLΛH tidak mampu memasukkan gajah ke dalam telur tanpa gajah itu mengecil atau telur itu membesar ? ΛLLΛH telah menciptakan mata dengan ukuran lebih kecil dari telur, dan menjadikan segala sesuatu yang dilihat masuk kedalamnya.”
Imam Jafar Shadiq pernah berkata kepada kaum sufi yang menolak anugerah-anugerah duniawi :
“Coba kalian jawab argumenku berikut ini mengenai kisah Nabi Sulaiman bin Daud as. Beliau mohon suatu kekuasaan dari Allah swt yang tidak akan diperoleh siapapun sepeninggalnya : ‘Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku.’ (QS. 38:35). Dan Allah memberikan kepadanya. Nabi Sulaiman tidak menginginkan sesuatu kecuali yang haq. Dalam hal ini, baik Allah swt atau orang-orang mukmin, tidak mencela Nabi Sulaiman karena memohon kekuasaan yang begitu besar dari Allah. Begitu juga halnya dengan Nabi Daud as yang datang sebelumnya.
Dalam kisah Nabi Yusuf, beliau berkata kepada raja: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’ (QS. 12:55). Akhirnya beliau menangani semua urusan negara yang terbentang luas dari Mesir sampai ke Yaman. Ketika paceklik menimpa seluruh pelosok negeri, semua penduduk dari berbagai belahan datang membeli perbekalan dan bahan-bahan pokok mereka. Ini tidak menyebabkan Yusuf lupa pada yang haq, dan Allah pun tidak mencelanya di dalam Al-Quran.
“Begitu juga dengan kisah Dzul Qarnain, seorang hamba yang cinta kepada Allah dan dicintai oleh-Nya. Kepada Dzul Qarnain, Allah memberikan kemudahan-kemudahan dan kekuasaan dunia, dari Barat sampai ke Timur.
“Hai orang-orang sufi! Tinggalkanlah jalan yang tidak benar itu. Tunjukkanlah adab Islam yang sebenarnya. Jangan melampaui perintah dan larangan Allah, dan jangan pula mengurangi perintah-perintah-Nya. Jangan kalian ceburkan diri kalian ke dalam masalah-masalah yang kalian tidak ketahui. Tuntutlah ilmu-ilmu itu dari ahlinya. Kenalilah perbedaan antara naskh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, serta halal dan haram. Semua itu akan lebih baik dan mudah bagi kalian, serta dapat menjauhkan kalian dari kejahilan. Bebaskan diri kalian dari kejahilan, karena penyokong-penyokongnya terlalu banyak; sebaliknya, penyokong-penyokong ilmu pengetahuan sangatlah sedikit.”
Ajaran-ajaran irfan baik teori maupun amali, harus selalu merujuk dan berusaha menyambungkannya dengan sumber dari pengetahuan itu yaitu tuhan. Menurut Ibnu Arabi pengetahuan yang disconected dengan Ilahi, itu bukan pengetahuan. masalahnya bagaiaman kita menghubungkan dengan sumber-sumber Ilahi atau divine tersebut?
intisari dari epistemologi irfan 2
tentang kalbu, atau syuhud yang menjadi alat untuk mendeteksi (katakanlah perasaan-perasaan suci ini), memang kita sementara ini hanya sebatas teori, tapi kita harus bisa menghidupkanya dalam kegiatan sehari-hari, siapkanlah hati, tuluskanlah dalam menerima segala yang terjadi; segala yang menyakitkan , segala yang menyenangkan dan segala yang tak terduga, jangan lari, hadapi dengan kebahagiaan total, sekalipun bisa jadi ego anda sakit menderita, karena kapasitas anda belum sanggup menerima kenyataan dan kepahitan yang terjadi, tapi itulah dan di momen itulah, anda harus merelakan kehadiran anda, dengan kondisi seperti itu, jangan menuntut diri untuk selalu sempurna, mempersiapkan diri, sehingga anda tidak hadir, malah melamun dengan kehidupan dan jadi anda tidak mengambil bagian.
saat engkau putus asa, pasti hatimu mengatakan jangan putus asa, cari jalan lain, saat lelah, pasti intuisimu mengatakan istirahatlah, saat menghadapi kesulitan, intuisimu mungkin mengatakan mintalah bantuan, ketika menghadapi berbagai jalan yang berbeda-beda, pasti intuisimu mengatakan pilihlah yang terbaik, terhemat dan ketika engkau salah memilih jalan, intuisimu pasti mengatakan kembalilah pada jalan yang benar dan jangan melamun memikirkan kesalahanmu, itu tidak ada gunanya. mungkin suatu saat intuisimu salah, misalnya dalam bisnis, memilih rekan, memilih kebijakan, melakukan proyek, investasi, atau juga mungkin karena tidak digunakan intuisimu, atau juga karena engkau tidak memiliki pengalaman dan engkau kurang pengetahuan di dalam bidang, itu tapi engkau harus melakukannya saat itu, maka sudah pasti kekeliruan akan terjadi, tapi ingat hal seperti itu akan menjadi pengalaman yang baik, karena intuisi juga mengajarkan bahwa boleh jadi ada saat-saatnya kita salah melangkah, namun kata intuisi teruslah belajar dan jangan putus asa, nah intuisi itulah yang harsu kita dengarkan dan bukan melamun kegagalan-kegagalan
inti sari epistemologi irfan
Rabu, 20 April 2011
mengikuti kata hati
Rabu, 06 April 2011
al-quran yang tak pernah kering
Nano Warno,M.A
(Salman Fadlullah)
Apresisasi kaum muslimin dari berbagai kalangan terhadap al-Quran menunjukkan bahwa al-Quran—baik disadari atau tidak—adalah bagian dari kekuatan kudus. Dr. Syihabudin Qalyubi menyatakan bahwa banyak orang yang kagum kepada al-Quran, namun mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka kagum atau tertarik. Pesona al-Quran bukan hanya karena faktor dogma teologis tapi juga karena ada faktor inheren di dalam teks itu sendiri. Karena itu Thâhâ Husayn (1889-1973) menyatakan bahwa al-Quran tidak bisa disebut dengan puisi atau prosa. Al-Quran tidak bisa bisa dikategorikan dengan nama apapun. Ia adalah kitab yang sangat sempurna yang datang dari Yang Mahabijak dan Maha memiliki pengetahuan.
Al-Quran adalah kalamullah dan kitabullah sekaligus. Kalamullah artinya wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw, adapun kitabullah artinya mushaf yang ada di tangan kita ini—yang terjaga keasliannya dari sejak diturunkan hingga sekarang. Al-Quran sebagai kalamullah— jika kalam difahami sebagai sifat Allah—maka al-Quran bukanlah makhluk; ia abadi. Namun jika kalamullah difahami sebagai kreasi, perbuatan (af’al) Allah— yaitu Allah berbicara kepada Rasulullah—maka ia adalah makhluk-Nya, sebab Af’al tuhan meniscayakan sisi lain yang menjadi penerima wahyu tersebut. Kesalahfahaman dalam menempatkan makna kalamullah ini pernah melahirkan fitnah antara Asy’ari dan Muktazilah. Kelompok Asy’ari menuduh Muktazilah—yang menganggap al-Quran sebagai makhluk—telah kafir. Sebab dianggap telah merendahkan sifat Allah dan menyamakannya dengan makhluk.
Bangunan Islam didirikan di atas ilmu pengetahuan . Ilmu pengetahuan artinya adalah kesadaran spritual dan intelektual dan maxim dari para pengembannnya. Masalah-masalah yang timbul dari aliran-aliran Islam di era klasik, bisa jadi sumbernya dari kekacauan cara berpikir dan nalar yang tidak logis dan tidak sistematis; tidak holistik alias parsialis, atau mengabaikan proses alamiah dan ilmiahnya, atau tidak diuji secara metodologisnya oleh para ahli zamannya, dan suka menyederhanakan pendekatan atau mengebiri akal sehat, tidak mempertimbangkan opini-opini umum, tidak berusaha menguji validitas tafsirannya dengan tafsiran yang lain, sekaligus mengabaikan standar-standar baku dari pada pakarnya
Mengkaji tafsir ayat al-quran rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa salah satu al-quran adalah mukjizat abadi dan terbesar dari mukjizat-mukjizat yang lain. Salah satu mukjizat itu adalah kekuatan petunjuk spiritualnya (hûdan) —yang akan membuat takjub siapapun yang mencoba menghampirinya—dari sisi lain al-quran juga bisa menjadi sumber polemik dari yang lembut hingga yang kasar dan bahkan menjadi justifikasi untuk tindakan-tindakan yang justeru bertentangan dengan semangat al-Quran sendiri. Tetapi ini bukan kesalahan al-Quran. Menurut Mulla Sadra, manusia lah yang menjadikan teks al-Quran itu cahaya yang menyinari hatinya ataukah ia membelenggu dirinya, menghijab dirinya dari caahaya al-Quran
Tidak semua tafsiran atas al-Quran bisa dibenarkan kita harus mendudukan hirarki tafsiran dari yang termulia sampai yang terburuk dan terjahat dari al-Quran. Upaya penafsiran al-Quran tidak hanya mengandalkan rasio de etre dari para aktifitas Islam tapi juga yang lebih penting adalah proses penafsiran itu bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah (islami) atau tidak?
Analisis atas pelbagai kecenderungan studi al-Quran digagas secara sistematis oleh Ignaz Goldhiher. Dalam magnum opusnya tentang madzab-mazhab tafsir, ia membagi studi tafsir dari era klasik hingga modern menjadi studi al-Quran tradisionalis, studi al-quran dogmatik, mistik, sektarian dan modern
al-Quran menurut para arif
al-Quran secara literal artinya himpunan, kumpulan, koleksi. Sinonim al-Quran adalah al-Furqan yang artinya memecah-mecah, memisah-misah, merinci. Allah swt berfirman :. Innâ alaynâ jam’ahu wa qur`anâhu, faidza qara`nâ fattabi` qur`anahu, tsumma alaynâ bayanahu. Sesungguhnya kami yang menghimpun al-quran dan pabila kami bacakan al-Quran maka ikuti bacaanya dan sesungguhnya kami yang akan menjelaskannya.
Himpunan itu adalah ilmu ijmali, akal basith, dan furqan adalah ilmu nafsani yang terperinci. Rasulullah dalam al-Quran menyatakan : “utîtu jawâmi’ al-Quran” (aku dikaruniai al-Quran yang sangat lengkap). al-Quran yang ada di tangan kita atau mushaf ini adalah al-Quran sekaligus juga al-Furqan. al-Quran itu adalah entitas yang sangat agung sebab datang dari Tuhan, kemudian diturunkan pada Muhammad dan kemudian diturunkan lagi kepada yang lebih rendah lagi yaitu umatnya.
Al-quran sekalipun sesuatu yang sangat tak terkatakan ketinggian martabatnya tapi dipersembahkan apa adanya; dibungkus dengan tirai-tirai material huruf agar bisa difahami oleh makhluknya——ini lutf Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Ibarat intan yang mulia yang tidak bisa disentuh oleh tangan-tangan kotor, karena itu dibungkus dengan kain agar siapa saja bisa menggenggamnya dan merasakan nilainya, Di dalam surat al-Anfal ayat 23 Allah swt berfirman, “Seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, pasti Allah akan membuatnya mereka mau menyimaknya.” Maksudnya bahwa menyimak al-Quran menuntut kualitas diri yang mulia agar Allah berkenan membukakan pintu hatinya, kalau tidak ada kualitas diri seperti itu maka Allah tidak akan membuatnya mendengar.
Al-Quran itu diselimuti oleh berbagai hijab—ribuah hijab—agar bisa dicerna oleh yang lemah akalnya, sebab yang terlalu benderang akan menyilaukan mata yang lemah, sepertinya halnya kelelawar yang tidak kuat dengan cahaya matahari, karena itu mereka tidak suka berkeliaran di siang hari. Agar si lemah dapat menikmati cahaya al-Quran, cahaya itu tidak dilemahkan intensitasnya tapi cahaya itu tapi dibungkus dengan ribuan pembungkus (hijab),
al-Quran itu satu hakikat tapi memiliki martabat-martabat dalam penurunnya dan memiliki ragam nama sesuai ragam lokus. Al-Quran yang ada di tangan kita adalah Kalamullah dan Kitabullah sekaligus. Sebagai kalamullah ia adalah cahaya maknawiyah. yang diturunkan kepada hati-hati para kekasih-Nya. Al-Quran mengisyaratkan “Walakin ja’alahu nûran nahdî bihi man nasyâ min ‘ibâdina. wa bil haqi anzalnâhu wa bilhaqi nazala.
Al-Quran menurut Mulla Sadra
Perbedaan antara kalamullah dan kitab-Nya
Mulla Sadra membedakan antara kalamullah atau wahyu dengan kitabullah. Pertama al-Quran secara hakikat diturunkan kepada Muhammad—wa bil haq anzalnâ, dan hakikat (al-Quran) kami turunkan (kepada Muhammad)—ini menegaskan bahwa sesungguhnya dalam tingkatan yang paling tinggi Muhammad telah menerima keseluruhan al-Quran dan sekaligus hakikatnya. Namun dalam tingkatan untuk umatnya beliau harus menyampaikannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Mulla Shadra mengatakan bahwa
Al-quran memiliki derajat-derajat dan manzilah-manzilah seperti layaknya manusia juga memiliki derajat-derajat . Derajat yang paling bawah dari al-Quran adalah seperti derajat yang paling bawah dari manusia. Derajat yang paling bawah dari al-Quran yaitu (nushaf) yang ada di antara dua jilid dan demikian juga derajat yang paling bawah dari manusia adalah apa yang ada di kulitnya. Dan bagi setiap derajat ada para pemikul hamalah) yang selalu menjaganya dan mencatatkannya—yang tidak akan disentuh kecuali setelah membersihkan diri dari kotoran (hadats) atau kebaharuan (huduts) atau setelah menyucikan diri dari belenggu-belenggu tempat dan status imkan (possibility states). Manusia yng terkerangkeng dengan lahiriyah (literalis) hanya akan mengapresiasi kulit teks-teks) al-Quran. Sementara yang dapat menangkap ruh al-Quran hanyalah ulul albab ( orang-orang yang tercerahkan hati dan pikirannya-penulis).
Di dalam surat al-Hasyr, Allah Swt berfirman, “Seandainya al-Quran itu kami turunkan di atas gunung maka gunung itu akan hancur karena takut kepada Allah swt.” Ayat seperti ini tidak mendapatkan refleksi yang mendalam dari sebagian kalangan kaum muslimin. Sebagian orang hanya mengukur kemuliaan, kehormawan dari penampilan-penampilan lahiriyah dengan tanpa memperhatikan kualitas-kualitas batinnya. Cara pandang seperti itu telah menjerumuskan seseorang pada pandangan dunia positifisme yang menjadi kaki tangan materialisme
Mengkaji tafsir ayat al-quran rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa salah satu al-quran adalah mukjizat abadi dan terbesar dari mukjizat-mukjizat yang lain. Salah satu mukjizat itu adalah kekuatan petunjuk spiritualnya (hûdan) —yang akan membuat takjub siapapun yang mencoba menghampirinya—dari sisi lain al-quran juga bisa menjadi sumber polemik dari yang lembut hingga yang kasar dan bahkan menjadi justifikasi untuk tindakan-tindakan yang justeru bertentangan dengan semangat al-Quran sendiri. Tetapi ini bukan kesalahan al-Quran. Menurut Mulla Sadra, manusia lah yang menjadikan teks al-Quran itu cahaya yang menyinari hatinya ataukah ia membelenggu dirinya, menghijab dirinya dari caahaya al-Quran
.
Setiap orang membutuhkan petunjuk al-Quran, namun jarang sekali yang berjalan melalui proses yang alamiah dan ilmiah. al-Quran mengatakan hal yastawiladzina ya’lamu walladzian la ya’lamuna? Apakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui? Di sini perlu mendapatkan perhatian penuh bahwa memilih jenis tafsir bukanlah suka atau tidak suka—yang kadang-kadang membelenggu seorang penafsir atau orang yang belajar tentang tafsir—tapi karena lebih karena cahaya ilmu. Memilih tafsir isyari bukanlah karena pergeseran paradima dari literalis (zahiri) menjadi esoteris (maknawi) atau dari esoteris menjadi tafsiran eksoteris dan esoteris (tafsir zahir wal batin) namun lantaran ilmu. Bahwa dalam islam pengetahuan tidak hanya terbatas pada yang lahiriyah namun juga batiniyah , intuitif, mental, cognitif, dan lebih jauh lagi adalah kasyaf. Pengetahuan tidak hanya didapat lewat penyimpulan nalar tapi juga lewat pengalaman dan juga lewat pembersihan diri (tazkiyatun nafs).
Yang kedua seperti yang diucapkan oleh Imam Shadiq as—yang dilukiskan oleh Imam Malik, bahwa imam shadiq selalu dalam tiga kondisi ; sedang menunaikan salat, sedang berpuasa, atau sedang membaca al-Quran, dan tidak pernah menyebutkan nama Rasulullah tanpa dalam keadaan berwudu.
Keistimewaan Tafsir Isyârî
Kehidupan ini sangat ditentukan oleh apa yang tidak tampak, yaitu perasaan, emosi, iman, sesuatu yang sangat tidak tersentuh oleh indrawi, dan sesuatu yang tidak bisa dilacak oleh alat-alat fisik. Yang sangat halus dan lembut justeru memiliki gerakan yang sangat dahsyat. Maka demikian juga adalah sangat mustahil al-Quran tidak menghargai pengetahuan-pengetahuan batin yang diperoleh oleh seseorang yang selama hidupnya beribadah dengan ikhlas kepada Allah swt. Pengetahuan yang bersifat batin, ilhami, intuintf, contemplatif. memiliki tingkatan-tingkatan antara satu yang lain
Jika al-Quran hanya sekedar himpunan kata-kata yang kering dan tidak mengandung makna-makna batin maka tidak mungkin melahirkan inspirasi-inspirasi spiritual. Sayid Qutub misalnya—sekalipun terkenal sebagai pembela kelompo literalis—pernah mengatakan bahwa kebahagiaan spiritual dan ilham sebagai sesuatu yang sangat menentukan bagi kehidupan bagi setiap orang
Menurut saya pandangan yang parsial tentang al-Quran itu beranjak dari sikap yang tidak adil terhadap ayat-ayat lain. Mereka tidak memiliki pengetahuan atau tidak membaca ayat-ayat lain yang secara diametrikal berbeda dan yang ketiga ini adalah penyakitnya para ulama yaitu kurang analisa yang tajam- sesuatu sikap yang tidak terpuji. Al-quran mengatakan bahwa hanya orang-orang yang serius, giat mengasah pikikran dan menganalisa dengan tajam yang akan memperoleh insight. Dengan demikian perintah untuk tafakur dan berpikir bukanlah sekedar berpikir saja tapi memang benar-benar berpikir dan mengerahkan seluruh waktu, tenaga dan analisa dengan data-data yang lebih lengkap untuk mendaptakan kesimpulan yang matang.
Tafsir isyari juga memberikan makna yang dalam atau hakikat dari setiap simbol. seperti dalam ayat terakhir surah al-Fatihah, misalnya kita diingatkan bahwa maghdubi ‘alayhim—yang biasanya untuk menunjukan orangorang yahudi —dan ternyata orang-orang muslim juga bisa terkena damprat ayat tersebut. Ibnu Arabi misalnya dalam tafsirnya mengatakan yang bahwa yang dimaksud dengan kata maghdubi alayhim yang adalah mereka yang terhijab oleh hijab materi, hijab inderawi (hijab jasmani) dan dzawq hissi sehingga tidak bisa merasakan karunia kalbu, karuni akal dan itu adalah mirip orang-orang Yahudi yang sebab klaim-klaim mereka tentang justifikasi mereka tentang hal-hal yang eksoteris. dengan demikian jika ada orang-orang yang muslim yang juga tertutupi diri mereka oleh materi, jasmani dan hissi sehingga sulit mendapatkan karunia-karunia spiritual bisa menjadi misdhaq dari frase ayat maghdûbi alayhim.
Dengan bantuan tafsir-tafsir esoteris akan ditemukanlah makna-makna yang lebih mendalam, komprehensif—yang sering hilang dalam tafsiran-tafsiran teologis dan jurisprudensi atau sektarian, apalagi tafsiran politis fundamentalis— Tafsir isyari juga adalah bentuk apresiasi atas amal atas akhlak sebab makna-makna itu ditemukan oleh orang-orang suci dan yang ingin membersihkan dirinya. Dengan kata lain, lewat tafsir isyari kita akan menemukan religious experience yang sangat tak terbatas. Dan untuk menyerap yang tak terbatas (unlimited) tentu memerlukan tafsiran-tafsiran yang tak membatasi potensi manusia dalam satu dimensi tertentu.
Tetapi terlalu melompat pada tafsiran isyari juga—kadang-kadang—jika belum waktuya yang tepat— dikhawatirkan akan kurang mengapresisi kekayaan tafsir-tafsir yang lain seperti tafsir bil ma`tsûr, tafsir lughawi, dan tafsir-tafsir lain. Lebih –lebih dengan tafsiran isyari kadang-kadang terasa hilang dimensi historis, ruang, waktu, konteks dan teks. Saat kita membaca surah Yusuf misalnya kita bisa menghirup diemnsi sejarah, perjuangan dan penderitaan seorang anak muda yang dizalimi, difitnah, Demikian juga dengan kisah dakwah Nabiyullah Musa as, kita bisa merasakan degup keberanian dalam melawan tiran yang sangat bengis di zamanya dengan bantuan sejarah dan analisa sastera.
Tampak akhirnya kita akan melihat bahwa setiap orang lebih suka dengan pilihan-pilihannya sendiri, Sebagian orang lebih senang memilih ayat-ayat yang sesuai dengan selera hati dan pikiran mereka sambil mengabaikan ayat-ayat lain. Mulla Sadra menyatakan bahwa ketika pendapat telah menjadi keyakinan akhirnya akan terbelenggu dengan keyakinan dan jika pendapatnya adalah kesesatan maka akidahnya akan menjadi kegelapan yang nyata.
Aktifitas membaca atau menafsirkan al-quran adalah penyatuan antara wujud yang lemah dengan Sang Wujud Yang Mahaagi mulia. Jadi secara ontologis tafsir adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas wujud, sebab kuantias dan kualitas ilmu akan meningkatan intensitas wujud.
Secara epistemologis tafsiran isyari adalah suatu bentuk apresiasi atas pencarian ilmu lewat penyucian diri yang juga sangat ditekankan oleh al-Quran. Salah satu upaya penyucian diri adalah dengan melawan dorongan-dorongan rendah dari jiwa, yaitu nafsu. dalam hadis dikatakan : Sesungguhnya Allah swt mencintai sang pemberani—yaitu yang berani membunuh hayat (ular) dan tidak ada hayat (ular) yang lebih mengerikan dari nafsumu; taklukanlah dan selamatkan dirimu dari racunnya yaitu akidah yang batil, pendapat yang kotor, dan pengaruh-pengaruhnya.....
Tafsir Isyâri (tafsir esoteris) Ibnu Arabi dan Mulla Sadra
Menghadirkan gagasan Ibnu Arabi dan Mulla Sadra dalam konteks ayat-ayat al-Quran merupakan kajian baru dan menarik karena sementara ini tafsir esoteris kedua pemikiran besar Islam, dan sekaligus exponen irfan masih jarang diapresiasi. Sebagian besar apreasisi para peneliti masih sering dipusatkan pada studi-studi doktrin-doktrin metafisik atau teologi. Padahal jika dilihat dari kualitas dan kuantitas, tafsir mereka berdua didasarkan pada sebuah teori yang utuh dan kuat dan memiliki basis dari sumber-sumber ajaran Islam. Yang kedua juga dari kekayaan literatur dan kemudahan mendapatkan kitab-kitab mereka. Mulla Sadra misalnya, memiliki kajian tersendiri dalam kitab seperti Mafâtîh al-Ghayb yang menjadi pengantar untuk memahami sisi batin al-Quran dan irfannya, demikian juga dengan delapan jilid tafsir filosofis dan irfannya dan beberapa kitab kecil tentang rahasia ayat-ayat dan kritikan untuk pseudo-sufism. Sementara Ibn Arabi sendiri memiliki kitab-kitab yang dipenuhi dengan tafsir-tafsir al-Quran, Kitab Futuhat al-Makiyyah misalnya sebetulnya adalah sebuah kitab tentang tafsir al-Quran dan kitab-kitab lain yang terselamatkan.
Tafsir Mulla Sadra adalah perpanjangan dari filsafat hikmah muta’aliyahnya, demikian juga tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu Arabi adalah mewadahi teori-teori wahdatul wujudnya. Bahkan menurut Dr. Sulayman Atasy puncak zaman keemasan tafsir isyari terjadi di era Ibnu Arabi. Banyak para penafsir besar lahir dari haribaan pengaruh ibnu Arabi seperti Kâsyânî, Simnânî dan setelah itu tafsir isyari kehilangan orisinalitasnya. Tasawuf setelah itu kembali lagi sibuk hanya seputar salat dan wirid-wirid. Daya analisisnya semakin menyusut.
Kita ingin melihat lewat analisa atas tafsiran mereka berdua, sejauh mana keberhasilan keduanya dalam menguraikan doktrin-doktrin mereka lewat pendekatan interpretasi ayat-ayat al-Quran. Tapi sebelum itu ada beberapa pembahasan yang akan kita lalui pertama pengetahuan kasyaf secara epistemologis dan kedua al-Quran di mata kaum arif.
Ayat-ayat al-Quran tentang pengetahuan batin (ladunî, irfan, tashawuf, mistikism)
Allah swt berfirman wa man yu`tal hikmah faqad ûtiya khayran katsîran (siapa yang dikarunia hikmah sesungguhnya telah dikaruniai kebaikan yang sangat banyak). Ayat ini juga dengan tegas menunjukan bahwa Al-quran memberikan nilai yang positif kepada ilmu-ilmu yang tidak tersirat di dalam al-quran seperti hikmah atau dalam bahasa sekarang falsafah. Atau ayat yang memberikan pujian kepada ûlul albâb: alladzina yadzkurûnallah qiyâman wa quû’dan wa ‘a’lâ junûbihim wayatafakarûna fikhalqi samâwâti wal ardhi. ayat yang sangat populer ini mengajak orang-orang islam untuk melakukan refleksi dan mengambil hikmah dari apa saja dan bukan hanya teks-teks yang tersurat. Termasuk merenungkan kata-kata dari para kekasih-kekasih Allah (wali-wali Allah)
wa fil ardhi ayâtun lil muqinîna wa fi anfusikum afalâ tubshirûn. (Di bumi terdapat ayat-ayat untuk orang-orang yang memiliki keyakinan dan apakah mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri). Menurut ayat ini, orang-orang yang memiki iman yang sangat kuat memiliki kemampuan untuk mendapatkan tanda-tanda kebenaran di dunia ini. Artinya dengan kualitas seperti itu akan meraih ilmu dari alam semesta ini. Keyakinan dan kekuatan imanlah yang ikut mencerdaskan mereka. Setelah itu Allah swt juga menyuruh manusia untuk melakukan perenungan atas diri mereka sendiri. Artinya lewat jiwa manusia ada pengetahuan yang diraih. Ilmu pengetahuan tidak hanya dicapai dari luar tetapi juga bisa diraih dari dalam diri. Jiwa ini mengandung sesuatu yang luarbiasa. Melihat ke dalam adalah jalan pengetahuan yang paling awal dan sekaligus juga paling meyakinkan. Ayat lain mengatakan, Kami akan memperlihatkan ayat-ayat kami di afaq dan di dalam diri-diri kalian sehingga jelaskan kebenaran bagi kalian. ayat ini dengan tegas sekali menunjukan bahwa kebenaran itu bisa ditemukan di dalam pengalaman spiritual (religious experience)
Hadis-Hadis tentang pengetahuan batini
Disini saya sengaja tidak akan mengklasifikan hadis berdasarkan mazhab. Saya lebih suka melihat bahwa syiah adalah sisi yang tak terlihat atau yang hilang dari mazhab Sunni dan Sunni adalah sisi yang terabaikan dari mahab Syiah. Keduanya sekalipun memiliki perbedaan tapi merupakan kesatuan dari perspektif yang berbeda. Perbedaan itu tergantung sudut pandang yang melihatnya. Apapun bisa menjadi beda untuk sesuatu yang sebetulnya sama jika yang dilihat adalah aspek perbedaannya. Sebagian orang yang suka melihat perbedaan dan tidak bisa melihat kesatuan tentu akan mengabaikan banyaknya kesamaan dari dua mazhab.
1. Imam Shadiq as berkata, “Al-Quran itu memiliki aspek lahiriyah dan memiliki aspek batin. Aspek lahirnya mengandung hukum tertentu dan aspek batinnya juga mengandung hukum tertentu. Ilmu pengetahuan tentang aspek lahiriyah sangat elok sementara pengetahuan tentang aspek batinnya sangat mendalam.”
2. Rasululullah saw berkata, “Kiblatku antara masyriq dan magrib.” hadis ini menurut Sayid Haidar Amuli menjadi dalil bahwa Rasulullah menguasai semua level. Sebab yang dimaksud dengan masyriq adalah kiblat nabi Isa as dan magrib adalah kiblat nabi Musa as. dan ini adalah level yang paling agung sebab menghimpuan esoterik dan eksoterik. dan ini sesuai dengan ayat : wa ja’alnâ kum ummatan wasathan litakûnû syuhadâ ‘ala nas (aku jadikan kalian sebagai umat washatan (umat yang menggabungkan antara eksoterik dan esoterik)
3. Ali bin Abi Thalib as berkata, -Asy-syari’atu nahrun,wal haqîqat bahrun, wa al-fuqahâ hawla nahrun yathûfûna wal hukamâ fil bahri yaghûshûna (Syariat itu adalah sungat dan haqiqat itu samudera. Para fukaha berdiri di tepi sungai sementara para ahli hikmah berenang di dalam samudera.’ Aku adalah al-Quran yang berbicara dan aku adalah al-quran yang lengkap karena menghimpun dua maqam yaitu lahir dan batin.
4. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasululah saw berkata, “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis dan kalian akan keluar ke tempat-tempat yang ‘sepi’ (- teks asli arabnya -lakharajtum ilâ shu’udât) dan tidak akan bisa tidur dengan tenang.” Hadis ini dimuat di kitab shahid Bukhari, Muslim dan juga Nasâ`i tetapi hanya sampai redaksi kalian akan sering menangis. Menurut hadis ini bahwa ada hal-hal yang tidak diketahui oleh para sahabat dan hanya diketahui oleh Rasululah saja sesuatu yang sangat menggugah emosi dan spiritual—tentunya adalah seuatu yang sangat agung dan tinggi—dan itu adalah pengetahuan tentang hakikat dari segala hakikat.
5. Masih dari Abu Hurairah (inna min al-‘ilmi ka hay`ati maknûn lâ ya’lamu ha illâ al’ulamâ`u billah fa idzâ nathaqû bih lâ yunkiruhu illâ ahlu ghurrati billah aaza wajalla), dikatakan “Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang seperti permata tersembunyi di dalam tiram, yang hanya diketahui oleh para ulama lillah dan tidak akan mengingkari pengetahuan itu kecuali orang-orang tertipu di hadapan Allah swt.”
Pengarang Qut al-Qulûb mentakhrij hadis dari Ibnu Mas’ûd yang menyatakan, “ Sesungguhnya al-Quran itu memiliki makna lahir dan memiliki makna batin memiliki had dan mathla”.
6. Abu Nua’im dalam kitab Hilyatul Awliyâ menukil hadis dari Ibn Mas’ud, “Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf dan setiap huruf itu mengandung makna lahir dan makna batin dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.”
7. Di dalam surat al-An’am, “Allah swt menjelaskan bahwa mereka yang akan menerima islam adalah orang-orang yang memiliki hati yang lapang (syarh shadr). Rasulullah ditanya bagaimana seseorang bisa memiliki hati yang lapang (syarh shadr)? Rasululah menjawab, “Ada cahaya yang menyinari dadanya sehingga menjadi luas dan lapang.”
8. Dalam Kitab Bukhari, bab ilmu, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia pernah berkata, “Aku mengingat hadis-hadis dari Rasulullah sebanyak dua wadah besar. Satu wadah aku sampaikan dan satu wadah lagi kalau aku sampaikan maka tenggorakanku pasti dipotong.”
Namun kita juga jangan tergesa-gesa menyimpulkan mereka yang menolak tafsir isyari tidak merujuk pada al-quran. Tampaknya pendapat apapun di dalam Islam, dari yang ilmiah, dan tidak ilmiah, dari yang ekstrim atau yang moderat tidak pernah tidak meninggalkan al-Quran sebagai dasar rujukannnya. Al-Quran mengatakan Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syâkilah) masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS al-Isra : 82-84). Fakhrurazi menafsirkan ayat di atas demikian :
al-Quran dapat mendatangkan rahmat dan kesembuhan bagi sebagian orang, tetapi pada saat yang sama juga mendatangkan bencana, kerugian dan kehinaan bagi yang lain. Ayat seterusnya juga menegaskan bahwa setiap orang beramal sesuai dengan syâkilah (tabiat)-nya. Maksudnya al-Quran akan mendatangkan pengaruh yang baik seperti pengetahuan dan kesempurnaan bagi mereka yang membersihkan dirinya tapi sebaliknya akan mendatangkan pengaruh yang buruk, menghinakan bagi orang-orang yang memiliki jiwa yang kotor. Seumpama sinar matahari matahari yang sinarnya memiliki efek yang berbeda pada benda-benda yang berbeda-beda. Sinar matahari dapat membekukan garam, tapi juga bisa mencairkan minyak. Sinar itu juga bisa menghitamkan wajah tapi juga dapat memutihkan kain cucian. Artinya ini menunjukan variasi species jiwa. Ada species jiwa yang cemerlang sekali sehingga layak menerima cahaya dari al-Quran tapi ada juga yang species jiwa yang sangat gelap dan kotor sekali yang menjadikan al-quran sebagai sumber kesesatan.
Kelompok yang menolak jenis tafsir isyari mengatakan bahwa yang memiliki otoritas menjelaskan ayat-ayat hanyalah Rasulullah dan para sahabatnya yang mendapatkan ilmu dari Rasulullah. Misalnya di dalam surah an-Nahl ayat 44 Allah swt berfirman Kami turunkan padamu ad-zikra (al-quran) untuk engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah kami turunkanpadamu agar mereka berpikir).Jadi mengapa harus merujuk pada klaim-klaim Ibn Arabi, dsb? Yang kedua menurut mereka Islam ini telah sempurna, semua hal yang fundamental telah dijelaskan oleh Rasulullah.
Bagian para arif, kata-kata, konsep adalah simbol dari sebuah makna yang ingin disampaikشn oleh Zat yang agung. Allah menggunakan bahasa sebab itu adalah media yang paling komunikatif bagi manusia. Tamtsil, metaforis, alegoris, semua itu adalajh simbol-simbol.
Siti Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan seluruh ayat al-quran dari awal hingga akhir ayat. Aisyah mengatakan Rasulullah tidak menafsirkan al-quran kecuali yang diajarkan oleh Jibril kepadanya.
Contoh-contoh tafsir Isyari
Imam Shadiq as pernah berkata, “Tidak ada satu pun msalah yang diperselisihkan dua orang kecuali pasti ada jawabannya di dalam al-Quran, hanya saja tidak semua orang bisa menggalinya. Imam Shadiq as menyatakan Allah bertajali kepada hamba-hamba-Nya lewat kalam-Nya tapi tidak terlihat.
Wahai orang-orang yang beriman penuhi janji kalian!. Menurut Ibn Arabi yang dimaksud dengan orang yang beriman, yaitu yang memiliki iman ilmi, sementara yang dimaksud memenuhi janji (awfu bil-‘uqud) yaitu janji ketegasan kalian di dalam suluk. Perbedaan antara ‘ahd dan ‘aqd, ‘ahd adalah mengesakan tuhan semenjak azali (tauhid fi al-‘ajal), sementara ‘aqd yaitu membulatkan tekad untuk menuju tuhan (suluk). Wa lâ tuhillu sya’arillah, menurut Ibn Arabi yaitu jangalah kalian lepaskan maqam-maqam dan ahwal-ahwal di dalam suluk seperti sabar, syukur, tawakal, ridha dsb. Janganlah kalian terpukau dengan aktifitas orang-orang kafir. Orang kafir di sini sebagai insan yang terhijab dari tauhid; yaitu din al-haq dalam (urusan) maqamat dan ahwal.
Washiti memiliki pandangan bahwa kematian sejati itu pasti diinginkan oleh jiwa. Ia menafsirkan ayat maka, bertaubatlah kepada tuhan kalian dan bunuhlah diri-diri kalian! (Qs al-Baqarah: 54). Taubat umat ini (umat Islam) lebih berat dari taubat bani Israil. Taubat bani Israil dengan cara membunuh jiwa-jiwa mereka sementara umat islam harus membunuh hakikatnya dan bukan hanya jiwanya.
Sekalipun hadis-hadis itu menegaskan bahwa untuk setiap ayat ada makna batinnya disamping makna-makna lahiriyah. Yang dimaksud dengan makna-makna lahiriyah adalah makna-makna yang difahami dari lafaz-lafaz ayat itu—tentu saja dengan bantuan analisis bahasa— atau juga makna-makna yang difahami lewat bantuan riwayat, sejarah¬—sementara yang dimaksud makna-makna batiniyah atau takwil—seperti yang telah disinggung di atas—adalah makna-makna yang dicerap oleh seorang arif atau makna yang dijelaskan oleh Rasulullah, para imam atau wali-wali yang suci di luar makna yang umum. Namun kemudian kita juga melihat bahwa di dalam tafsir-tafsir irfan tidak semua ayat itu ditafsirkan. Sebagian besar ayat-ayat yang dijelaskan makna-makna lahiriyahnya adalah ayat-ayat tertentu saja— dan teruma jenis ayat-ayat yang memang mengandung kiasan-kiasan, atau simbol-simbol seperti cahaya, pohon yang baik (syajarah thayyibah), ceruk, misykat, dan sebagainya.
Disini kita bisa melihat misalnya gambaran tentang surga yang menawarkan kebahagian-kebahagiaan fisik seperti kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (jannâtin tajrî min tahtihâ al-anhâr). Pernyataan-pernyataan ini menurut para arif hanyalah simbol untuk menarik hati orang-orang yang masih terhijab dalam fantasi fisik—sementara kebahagiaan yang sebenanrya adalah memiliki karakter spiritual— dalam hadis ditegaskan bahwa tidak ada kebahagiaan yang mengatasi kebahagiaan melihat Allah Swt.
Kita belum bisa mengetahui apakah kecenderungan itu karena pesona ayat-ayat itu yang memiliki magnitude yang lebih dahsyat dari ayat-ayat lain ataukah karena kekayaan makna-makna ayat itu yang bisa mewadahi seluruh perspektif esoterik, ataukah kecenderungan para mufasir esoterik yang hanya memilih ayat-ayat tertentu saja.
Tafsiran-tafsiran isyari itu menjadikan ayat-ayat hanyalah sebagai simbol (sandi) atau code kepada makna yang lebih dalam lagi. Misalnya ayat yang berbicara tentang pohon yang baik (syajarah thayyibah)—yang menurut ayat al-Quran akarnya menghunjam kuat ke dalam tanah (ashluha tsâbitun) dan rantingnya atau dahannya menjulang ke langit (far’uha fi as-samâ) yang memberikan buah-buah setiap saat (tu`ti ukulha kulla hîn)— Syaikh Jafar Subhani mewakili kaum theolog menafsirkan pohon yang baik dengan keyakinan yang benar (aqidah shahihah), yang ciri-cirinya keyakinan itu harus kuat menghunjam di dalam dada, namun juga keyakinan itu mendorongnya untuk selalu taqarrub kepada Allah dan di saat yang sama juga memberikan keberkatan kepada manusia yang lain. Ayat yang sama di atas dimaknai untuk menunjukan keutamaan ahlubait nabi. Yang dimaksud dengan pohon, akar dan cabang adalah personifikasi dari manusia-manusia suci (ma’shum). Kedua tafsir itu tentu saja tidak bertentangan. Diktum mengatakan tafsir esoteris tidak boleh bertentangan dengan tafsir esoterik. Yang satu berbicara tentang takwil dan satu berbicara tentang sebuah prinsip.
Di dalam kitab-kitab tafsir syiah kita menemukan banyak sekali tafsiran atau takwil ayat-ayat itu untuk menunjukan keistimewaan imam-imam seperti di dalam ayat ‘amma yatasalun yang ditakwilkan untuk menunjukan pengangkatan imam Ali as menjadi washy.
Di dalam surah Saba, ayat 46 dikatakan, Qul innama ‘aiduum biwahidaitn an taqûmû lillah (kataknalah aku hanya menasehatimu dengan satu hal yaitu bangkitkan untuk Allah). Menurut penyusun Kitab Anîsul ‘Ârifîn yaitu kitab yang berisikan komentar Abd Razaq Kasyani atas kitab Manazil Sairin li-Khaja Abdulllah Anshârî; yang dimaksud dengan bangkit untuk Allah (awakening) adalah awakening dari tidur kelalaian ghaflah atau dari perangkap kevakuman (wartah fatrah). Kebangkitan menuju Allah dalam terma sufi adalah yaqzah, Yaqzah merupakan maqam awal yang harus dimasuki oleh para salik yang ingin menuju Allah. Ayat ini menjadi memiliki makna yang agung dibandingkan dengan tafsiran eksoterik yang biasa-biasa saja yang— diberikan oleh tafsir-tafsir kaum teolog. Salah satu hikmah dari makna-makna batin memang mengangkat ayat-ayat makna-makna lahiriyah—ayat-ayat yang hanya bisa difahami oleh mereka yang terhijab hati mereka dari cahaya hakikat kasyaf—untuk mereka yang terbelenggu dengan kulit-kulit (literal) ayat-ayat al-Quran.
Salah satu keindahan dari metoda tafsir isyari adalah penjelasan bahwa ayat-ayat itu selalu menyingkapkan sifat-sifat dan af’al Ilahi. Jadi para arif selalu mencari kreasi dan sifat-sifat tuhan dari ayat-ayat itu sementara kaum literalis hanya mencari nomos (hukum)nya. Pemaham atas hukum tanpa menghubungkan dengan sifat dan af’al Ilahi mungkin akan menghasilan pemahaman yang tidak lengkap— sebenarnya sebagian para mufasir juga sudah menyebutkan tentang rahasia penyebutan sifat-sifat tuhan di setiap akhir ayat. Sifat-sifat tuhan itu menjadi clue atas makna yang sebenarnya dari ayat itu. Dengan demikian ayat-ayat yang diakhir dengan menyebutkan sifat-sifat yang baik tuhan seperti Yang maha pengasih dan maha penyayang, atau maha santun (raûf) biasanya ayat-ayat itu berbicar tentang hal-hal yang positif, dan jika diakhiri dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya maka ayat itu berbicara tentang suatu dampratan untuk kaum atau untuk perbuatan tertentu. Sisi lain dari tafsir Isyari adalah kekayaan maknanya. Seorang arif mengatakan bahwa setiap huruf mengandung ribuan makna bahkan sampai enam puluh ribu makna.
manusia itu tergadai dengan amal-amalnya
akhirnya kutemukan kembali blogku
jangan merasakan kebencian di dadamu terhadap orang lain
Mengapa sulit berkomunikasi, atau menjalin silaturahmi atau melakukan negosiasi dengan seseorang? Salah satunya karena kita sendiri sudah mengawalinya dengan perasaan-perasaan yang tidak nyaman. Kita mulai dengan perasaan negatif karena hal-hal yang sebetulnya diciptakan oleh diri kita, dan kemudian ciptaan itu dimasukan ke dalam perasaan. itulah yang menjadi dinding yang sulit ditembus untuk memasuki dan merasakan simpati pada yang lain
Minggu, 23 Agustus 2009
Kamis, 19 Februari 2009
tafsir isyari
1. sifat tafsir esoteris
2.periode-periode tafsir esoteris
3.bahasa simbolisme
4.sunnah dan tafsir esoterisme
5. penyebaran ilmu tafsir dan sejarah selanjutnya
6.para filsuf dan tafsir-tafsirnya
7.tafsir-tafsir syiah
8.tafsir-tafsir sufi dari masa sesudanya
9.berbgai metoda dan tujuan tafsir esoteris
Ibnu abbas diriwayatkan pernah berkata, “Apa yang kuambil dari tafsir al-Quan berasal dari Ali bin Abi Thalib dan Ibnu mas;ud juga pernah mengatakan bahwa Ali bin abli Thalib mengambil dari al-quran makna lahir dan makna batiniah.
Bagi kalangna penganut syiah, menafsirkan al-quran hanya boleh dilakukan oleh para imam. Mereka adalah para penerus Nabi yang kepadanya kitab mulia itudiwahyukan dan pemahaman yang sepenuhnya diberikan. Akan tetapi itu bukan berartibahwa seorang ulama syiah yang berkemampuan tidak boleh memberikan sumbangna para penafsiran al-Quran
Rabu, 17 September 2008
majlis taklim dunia maya (Tafsir Isyari al-Quran)
Jumat, 01 Februari 2008
kekeliruan tentang al-quran

Syubuhat tentang AL-Quran yang harus dijawab
Secara ilmiah dan bukan ngawur.
Kutipan dari sebuah situs
by: abdullah jamin
Ada banyak hal yang apabila dilakukan penelitian dengan Kitab Para Nabi terdahulu, kejanggalan dalam ajaran islam sangat terasa seolah apabila kita membaca alquran kita bukannya menemukan kitab penyempurna Kitab-kitab terdahulu, malahan kita seperti kembali lagi kezaman sebelum nabi musa, yakni zaman penyembahan berhala.
Salah satujnya adalah perihal salat 5 waktu adalah bukan ibadah pada tuhan tapi lebih mirip ritual penyembahan berhala-nya bangsa penganut agama pagan(penyembah berhala)
Sholat adalah ritual yang menista Tuhan
Kenapa sholat saya katakan menista Tuhan?
Karena Tuhan bukan patung berhala, yg tergila-gila pada penyembahan.
Sosok yang sangat gila disembah adalah SETAN. Setan tidak peduli pada tingkah laku penyembahnya, asal para penyembah itu bersedia setia cuma mau menyembahnya saja, setan girang banget.
Setan dalam Bibel adalah sama dengan Allah SWT dalam Alquran.
Atau bila dibalik, Allah SWT memiliki tabiat yang sama dengan tabiat Setan dalam Bibel.
Mengenai ini, bisa dibaca di:
Tuhan dalam Alquran adalah Setan
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=13268
Bila sholat memang ditujukan kepada setan, no problem. Dan ini sangat miris sekali, sebab dengan demikian Islam adalah agama penyembah setan.
Tapi masalahnya adalah, Muslim selalu menganggap ritual nyembah-nyembah dalam sholat itu ditujukan kepada Tuhan Pencipta. Nah, inilah letak penistaannya.
Saya tegaskan di sini, bahwa:
1) Ritual sholat adalah menghina Tuhan, karena Tuhan yg sesungguhnya tidak tergila-gila pada masalah penyembahan. Ini penghinaan yang luar biasa sekali kurang ajarnya. Apa sih yang Tuhan utamakan? Perilaku hidup umatNya, itulah yang menyenangkan Tuhan dan itulah yang Tuhan ridhoi.
2) Ritual sholat adalah sama dengan menganggap Tuhan itu sosok pribadi yang sangat idiot, girang banget kalau disembah-sembah, sehingga tidak peduli pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, bangsa Arab menganggap Tuhan itu botol dan buta rohani. Ini sikap yang sangat kurang ajar dan menghina. Tuhan yang sejati tidak lebih mengutamakan penyembahan ketimbang keadilan dan kebenaran. Penyembahan hanyalah efek samping dari ketundukan, dan bukanlah sesuatu yang diutamakan, apalagi sampai mengandung pahala. Tuhan tidak pernah menjanjikan pahala bagi orang yang nyembah-nyembah diriNya, justru setan-lah yang menjanjikan pahala bagi orang yang bersedia nyembah-nyembah dirinya.
Bandingkan 2 catatan berikut:
SETAN dalam Bibel menjanjikan pahala bagi siapa yang mau menyembahnya
“Jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu." (Lukas 4:7)
ALLAH SWT dalam Alquran, menjanjikan surga bagi siapa saja (termasuk pada penjahat) asal cuma setia menyembahnya saja
Seorang Pencuri dan Pezinah akan masuk surga, asal cuma menyembah Awloh saja seumur hidupnya. (Sahih Bukhari 9.93.579)
Siapa saja yang hafal 99 nama Awloh, dijamin masuk surga (Sahih Muslim, Book 035, Number 6475)
Coba, kalau saya sebagai manusia secara pribadi bisa merasakan kekurangajaran Islam dalam memperlakukan Pencipta-Nya, bukankah terlebih lagi Dia sebagai pihak yang diperlakukan demikian oleh Muslim?
Bangsa Arab itu kurang ajar, sudah keterlaluan dan sangat menghina sekali. Sekarang ini saya percaya, kalau bangsa bebal itu sedang dalam proses "penggemukan" untuk hari penyembelihan. Bangsa Arab dengan enaknya menerima upeti dari segala bangsa yang berhasil dikibulinya, mereka juga menikmati kekayaan alam berupa tambang minyak bumi yang Tuhan berikan. Ini hanya untuk memberi kesan adil kepada manusia, bahwa hukuman Tuhan di neraka adalah sebanding dengan kenikmatan hidup yang Tuhan berikan bagi orang jahat. Inilah iman saya.
by: abdullah jamin
Yang disampaikan oleh "faithfreedom" bukan kesimpulan nyleneh tapi, keberanian pengungkapan fakta kebenaran yang dilakukan oleh orang-orang islam sendiri dengan tujuan menemukan KEBENARAN YANG SEBENAR-BENARNYA, krn selama ini umat islam terlalu takut menyelidiki agamanya sendiri, dan malah bersemangat menilai agaman orang lain....
Kontradiksi, Pertentangan dan Ketidakkonsistenan Alquran
By: St. Jodi L. Parson Rajagukguk, SH
Copyright © September 27, 2007
Umat Muslim menggunakan cara berpikir yang berputar-putar tak berujung pangkal ketika berurusan dengan Alquran. Umat Muslim telah memutlakkan kebenaran Alqurannya, padahal seharusnya masih memerlukan pembuktian.
Contoh Dialog:
Muslim : Alquran tanpa salah
Non Muslim : Mengapa Alquran tanpa salah, mengapa hal itu benar?
Muslim : Karena Alquran yg mengatakannya demikian
Non Muslim : Tetapi mengapa Alquran itu benar?
Muslim : Karena Alquran tanpa salah
Saudaraku, kita tidak perlu berputar-putar dalam satu lingkaran tanpa ujung pangkal, tetapi harus menyerahkan Alquran dapat diuji secara ilmiah dan kritis.
Perhatikan hal ini!
"Jika Alquran benar, maka Alquran akan bertahan dalam setiap pengujian. Tetapi jika Alquran salah, maka lebih baik mengetahuinya sekarang daripada terus mengimaninya secara buta."
Alquran mengatakan dirinya berasal dari Allah, terjaga dari semua kesalahan, dan hal itu merupakan bukti pewahyuan. Alquran berani menantang manusia dengan berkata: " Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran, kalau sekiranya Alquran bukan dari sisi Allah tentulah mereka dapati banyak pertentangan di dalamnya."(Qs. 4:82).
Konsekuensi dari klaim/pernyataan Alquran ini adalah…satu saja (satu ayat saja yg bertentangan) atau satu kesalahan yg ditemui dalam Alquran, maka sudahlah cukup untuk menggugurkan keberadaan Alquran sebagai Wahyu Allah. Inilah Rumus Terjitu!!
KONTRADIKSI/ PERTENTANGAN/ KETIDAKKONSISTEN AN ALQURAN:
Antara lain:
1. Siapakah yg pertama kali menjadi Muslim? Muhammad (Qs.6:14,163) .
Hal ini bertentangan dengan:
1. Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Musa (Qs.7:143).
2. Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Beberapa orang Mesir (Qs.26:51).
3. Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Ibrahim (Qs.2:127-133, Qs.3:67).
4. Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Adam, yaitu manusia ciptaan pertama, yang menerima wahyu dari Allah Muslim (Qs.42:51).
Sampai disini sudah ada 10 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 10 pertentangan.
2. Bisakah Allah Muslim dilihat oleh manusia dan apakah Muhammad (Mhd) melihat Allahnya? Ya, Mhd dapat melihat Allahnya ( Qs.53:1-18, Qs.81:15-29) .
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.6:102-103 dan Qs.42:51) mengatakan bahwa Mhd tidak dapat melihat Allahnya.
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 14 pertentangan.
3. Apakah pemberi peringatan (Rasul) dikirim kepada semua manusia sebelum kedatangan Mhd? Ya, Allah Muslim telah mengirim pemberi peringatan (Rasul) kepada setiap orang ( Qs.10:47, 16:35-36, 35:24).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Ibrahim dan Ismael secara spesial telah dikirim oleh Allah Muslim untuk mengunjungi Mekah dan membangun Ka'bah serta memberi peringatan kepada orang2 di
2. Anehnya, Mhd ternyata dikirim sebagai pemberi peringatan (Rasul) kepada orang2 yg belum memiliki rasul/pemberi peringatan tersebut sebelumnya ( Qs.28:46, 32:44, 36:2-6).
Hal ini menimbulkan pertanyaan: "Bagaimana dengan Hud dan Sahih yg nyata2 juga telah dikirim sebagai pemberi peringatan ke Arab? Bagaimana juga dengan Kitab yg telah diberikan kepada Ismael? Dll ( Qs.11:50, 11:61).
Sampai disini sudah ada 18 pertentangan ayat. Jadi total sudah ada 32 pertentangan.
4. Apakah yg menjadi makanan orang2 di Neraka? Makanan orang2 yg ada di Neraka adalah Dhari atau pohon berduri (Qs.88 :6).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Makanan orang2 di Neraka adalah darah dan nanah (Qs.69:36).
2. Makanan orang2 di Neraka adalah buah dari pohon Zaqqum (Qs.37:66).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 34 pertentangan.
5. Bisakah malaikat2 menyebabkan kematian/penderitaa n terhadap manusia? Alquran menyerang mereka yg menyembah selain Allah Muslim, seperti malaikat, nabi. Mengapa? Karena malaikat dan dan nabi tidak bisa menciptakan, memberi kehidupan atau bahkan menyebabkan kematian atau penderitaan.
Hal ini bertentangan dengan:
1. "Sesungguhnya orang2 yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri…(Qs.4:97).
2. "(Yaitu) orang2 yg dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri" (Qs.16:28).
3. "(Yaitu) orang2 yg diwafatkan dlm keadaan baik oleh para malaikat.." (Qs.16:32).
4. "Katakanlah, "malaikat maut yg diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu.." (Qs.32:11).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 38 pertentangan.
6. Bisakah umat Muslim menikah dengan orang Non-Muslim? Alquran melarang umat Muslim menikahi wanita penyembah berhala dan kafir juga musyrik serta menganggap orang di luar Islam adalah binatang yang paling jahat dan buas (Qs.2:221, 8:55, 9:28-33).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.5:5 yang ternyata memperbolehkan Umat Muslim untuk mengawini/menikahi wanita Kristen.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 39 pertentangan.
7. Apakah Allah Muslim akan menganugerahi imbalan yg baik atas perbuatan2 baik orang Non-Muslim? Tidak ( Qs.9:17, 9:69).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.2:62 menjanjikan bhw Umat Kristen (Non-Muslim) akan diberi penghargaan atas perbuatan baik mereka.
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 41 pertentangan.
8. Berapa banyak Ibu yg dimiliki seorang Muslim? Hanya satu, yaitu wanita yg melahirkan mereka dan tiada yg lain ( Qs.58:2).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Ibu yg dimiliki seorang Muslim adalah dua (2) (Qs.4:23, termasuk seorang ibu yg merawat mereka).
2. Ibu yg dimiliki seorang Muslim adalah sedikitnya sepuluh (10) (Qs.33:6).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 43 pertentangan.
9. Mengenai pembagian harta warisan dalam Hukum Kewarisan Islam. Qs.4:11-12 dan Qs.4:176 menyatakan bahwa jika seorang lelaki Muslim meninggal dan ia meninggalkan 3 puteri, 2 orangtua, dan isteri..maka pembagian harta warisannya adalah 2/3 dari harta warisan yg diberikan kepada 3 puterinya secara bersamaan, 1/3 dari harta warisan diberikan untuk orangtuanya ( Qs.4:11) dan 1/8 untuk isterinya (Qs.4:12).
Hal ini bertentangan dengan:
Jika lelaki Muslim meninggal, maka pembagian harta warisannya adalah ibunya menerima 1/3 dari harta warisan (Qs.4:11), isterinya menerima ¼ dari harta warisan ( Qs.4:12), dan 2 saudara perempuannya menerima 2/3 dari harta warisan (Qs.4:176), dan ditambah lagi hingga 5/12 dari harta warisan yang tersedia/ada.
Sampai disini sudah ada 6 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 49 pertentangan.
10. Berapa banyak malaikat yg berbicara kepada Maryam? Beberapa malaikat (several angels) (Qs.3:42, 3:45).
Hal ini bertentangan dengan:
Malaikat yg berbicara kepada Maryam adalah hanya satu malaikat (Qs.19:17-21) .
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 52 pertentangan.
11. Berapakah 1 hari dimata Allah Muslim? 1 hari dimata Allah Muslim = 1000 tahun (Qs.22:47, 32:5).
Hal ini bertentangan dengan:
1 hari dimata Allah Muslim = 50.000 tahun (Qs.70:4)
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, total sudah ada 55 pertentangan.
12.
Hal ini bertentangan dengan:
a. Qs.90:18-19 mengatakan bahwa ada 2 golongan/group yg ada pada hari Penghakiman/ Akhir Zaman, yaitu golongan kanan dan golongan kiri.
b. Qs.99:6-8 juga mengatakan bahwa akan ada 2 golongan/group yg ada pada hari Penghakiman/ Akhir Zaman, yaitu golongan yg berbuat baik dan yg berbuat jahat.
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 58 pertentangan.
13. Berapa harikah yg dibutuhkan Allah Muslim untuk menghancurkan orang2 Aad? Satu hari (Qs.54:19).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.41:16 dan Qs.69:6-7 mengatakan bahwa waktu yg dibutuhkan Allah Muslim untuk menghancurkan orang2 Aad adalah beberapa hari.
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 60 pertentangan.
14. Berapa harikah masa Penciptaan? Bila anda menjumah hari penciptaan dlm Qs.41:9 (4 hari), Qs.41:10 (2 hari) dan Qs.41 :12 (2 hari), maka total hari Penciptaan adalah 8 hari.
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.7:54, Qs.10:3, Qs.11:7 dan Qs.25:59 jelas menyebutkan bahwa Allah Muslim menciptakan langit dan bumi adalah dalam waktu 6 hari.
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 64 pertentangan.
15. Cepat atau lambatkah Penciptaan itu? Allah Muslim menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari (Qs.7:54, Qs.10:3, Qs.11 :7 dan Qs.25:59).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim mencipta secara "spontan" dan langsung jadi (Qs.2:117).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 68 pertentangan.
16. Manakah yg lebih dahulu diciptakan: langit atau bumi? Pertama, bumi dulu yg diciptakan, lalu kemudian barulah langit ( Qs.2:29).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.79:27-30 yg menyebutkan bahwa yg diciptakan terlebih dahulu adalah langit, kemudian bumi.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 69 pertentangan.
17. Bagaimanakah proses penciptaan terjadi? Dalam proses penciptaan langit dan bumi diciptakan dengan suka hati atau terpaksa ( Qs.41:11).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.21:30 menyebutkan bahwa langit dan bumi pada mulanya diciptakan telah bersatu padu, kemudian baru dipisahkan.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 70 pertentangan.
18. Dari manakah manusia itu diciptakan? Dari Segumpal Darah (Qs.96:1-2).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Manusia diciptakan dari air (Qs.21:30, 24:45, 25:54).
2. Manusia diciptakan dari tanah liat kering yg berasal dari Lumpur hitam (Qs.15:26).
3. Manusia diciptakan dari debu tanah (Qs.3:59, 30:20, 35:11).
4. Manusia diciptakan dari bahan yg tidak ada sama sekali (Qs.19:67).
5. Manusia diciptakan dari bumi (Qs.11:61).
6. Manusia diciptakan dari mani/sperma (Qs.75:37).
Sampai disini sudah ada 11 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 81 pertentangan.
19. Bolehkah menjadi perantara/orang yg bersyafaat atau tidak pada Hari Penghakiman/ Akhir Zaman? Boleh (Qs.20:109, 34:23, 43:86, 53:26).
Hal ini bertentangan dengan:
Menjadi perantara/orang yg bersyafaat pada Hari Penghakiman/ Akhir Zaman adalah tidak boleh (Qs.2:122-123, 2:254, 6:51, 82:18-19).
Sampai disini sudah ada 16 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 97 pertentangan.
20. Dimanakah Allah Muslim dan tahtaNya? Allah Muslim lebih dekat daripada urat leher manusia (Qs.50:16).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Allah Muslim itu berada di tahtaNya/arasyNya (Qs.57:4)…tahtaNya dimana?!
2. Allah Muslim itu tahtaNya berada di atas air (Qs.11:7).
3. Allah Muslim itu tahtaNya berada antara 1.000 hingga 50.000 tahun untuk dijangkau (Qs.32:5, 70:4).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 101 pertentangan.
21. Siapakah sumber malapetaka? Sumber malapetaka adalah Setan di "dalam" diri manusia atau gangguan (Qs.38:41).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Sumber malapetaka adalah kita sendiri (Qs.4:79).
2. Sumber malapetaka adalah Allah sendiri (Qs.4:78).
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan, jadi total sudah ada 104 pertentangan.
22. Apakah Allah Muslim memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji? Tidak! (Qs.7:28, 16:90).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji (Qs.17:16, Qs.5:33, Qs.8:12, Qs.8:17).
Sampai disini sudah ada 8 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 112 pertentangan.
23. Salah satu dari 99 Nama dari Allah Muslim adalah MahaBenar
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim menjuluki diriNya sebagai "Sebesar-besar Penipu Daya / Penipu Ulung Penipu yg Hebat" (Qs.3:54).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 113 pertentangan.
24. Allah Muslim adalah Jalan yg Lurus (Qs.19:36).
Bertentangan dengan:
Allah Muslim juga berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 114 pertentangan.
25. Allah Muslim itu MahaKuasa (Qs.2:20), bertentangan dengan: Allah Muslim itu juga ditolong manusia (Qs.47:7).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 115 pertentangan.
26. Allah Muslim itu Maha Mengetahui (Qs.4:24), bertentangan dengan: Allah Muslim juga belum mengetahui (Qs.9:16).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan, jadi total sudah ada 116 pertentangan.
27. Allah Muslim itu Mahakaya (Qs.2:263), bertentangan dengan: Allah Muslim meminjam kepada manusia (Qs.5:12).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 117 pertentangan.
28. Allah Muslim itu Esa/Satu/Tauhid (Qs.112:1), bertentangan dengan: Allah Muslim itu lebih dari satu/jamak, karena setiap kali berfirman kepada nabiNya, kepada manusia, kepada malaikat maka Allah Muslim selalu berkata: "KAMI" (Lihat Qs.4:47, 6:92, 12:2, 13:37, 14:1, 15:6, 17:2, 18:7, 19:40, 20:55, 21:71, 29:15, 36:12, 40:78, 46:16, 49:13, 56:57, 66:12, 72:16, 80:25-27, 90:4, dll).
Sampai disini sudah ada 21 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 138 pertentangan.
29. Apakah malaikat itu pelindung? Tidak ada pelindung selain Allah Muslim (Qs.2:107, 29:22).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Qs.41:31 yg mencatat bahwa bahwa malaikat berkata: "Kamilah pelindung-pelindung mu dalam kehidupan dunia dan akhirat."
2. Peranan malaikat adalah sebagai pengawas dan penjaga (Qs.13:11, 50:17-18).
3. Malaikat adalah pengawas pekerjaan manusia (Qs.82:10).
Sampai disini sudah ada 8 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 146 pertentangan.
30. Apakah semua yg ada di langit dan bumi tunduk kepada Allah Muslim? Ya (Qs.30:26).
Hal ini bertentangan dengan:
Ternyata Setan/Iblis tidak tunduk kepada Allah Muslim (Qs.7:11, 15:28 -31, 17:61, 20:116, 38:71-74, 18:50)., bahkan orang2 Non-Muslim pun menolak taat dan tunduk kepada Allah Muslim sampai hari ini!
Sampai disini sudah ada 6 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 152 pertentangan.
31. Apakah Allah Muslim mengampuni dosa syirik?Dosa syirik dianggap dosa yg paling buruk dari segala dosa, tetapi penulis Quran tidak dapat memutuskan apakah Allah Muslim akan mengampuni dosa syirik atau tidak ( Qs.4:48, 4:116).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Dosa syirik adalah dapat diampuni (Qs.4:153).
2. Dosa syirik adalah dapat diampuni (Qs.25:68-71) .
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 156 pertentangan.
32. Siapakah yg mewahyukan Alquran? Sosok Allah Muslim (Qs.53:2-18) .
Hal ini bertentangan dengan:
1. Yg mewahyukan Alquran adalah RuhulQudus/Roh Kudus (Qs.16:102, 26:192-194).
2. Yg mewahyukan Alquran adalah para malaikat/banyak malaikat (jamak dalam bahasa Arabnya) (Qs.15:8).
3. Yg mewahyukan Alquran adalah Jibril (Qs.2:97).
Awas! Harap lihat Alquran dalam bahasa aslinya, dan tidak dikaburkan/ dicampur adukkan oleh istilah/sisipan dari "penterjemah" yg menyamaratakan/ menggantikan "Ruhul Qudus" "Jibril" dan "Malaikat".
Sampai disini sudah ada 5 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 161 pertentangan.
33. Apakah Ibrahim menghancurkan berhala-hala? Ya (Qs.21:51-59) .
Hal ini bertentangan dengan:
Ibrahim tidak menghancurkan berhala, tetapi berdiam diri dan meninggalkan para penyembah berhala tersebut (Qs.19:41-49, 6:74-83).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 163 pertentangan.
34. Tentang Raja Firaun: Apakah Raja Firaun menjadi Muslim atau menolak menjadi Muslim? Raja Firaun bertobat (menjadi Muslim) dan diselamatkan.
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.4:18 mencatat bahwa "Tidaklah tobat itu (diterima Allah Muslim) dari orang2 yg mengerjakan kejahatan…dst. ." Dengan kata lain, Raja Firaun tidak mungkin menjadi Muslim dan bertobat.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 164 pertentangan.
35. Apakah ayat2 Alquran/Firman Allah dapat diganti? Firman Allah adalah sempurna dalam kebenaran dan keadilan dan tiada seorangpun yg dapat mengganti Firman Allah ( Qs.6:115).
Hal ini bertentangan dengan:
Nyata-nyatanya Allah Muslim dan Muhammad juga mempertimbangan bahwa perlu juga untuk mengganti beberapa kalimat (Firman) Allah dengan yg lebih baik ( Qs.2:106, Qs.16:101).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 166 pertentangan.
36. Apakah hukum bagi orang yg melakukan perbuatan keji? Didera (dipecut) sebanyak 100 kali, baik pria maupun wanita ( Qs.24:2).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Orang yg berzinah, khususnya pria hukumannya adalah jika bertobat dan memperbaiki diri, maka akan diampuni (Qs.4:16).
2. Orang yg berzinah, khususnya wanita, hukumannya adalah dikurung didalam rumah sampai mati atau sampai Allah Muslim memberi jalan lain ( Qs.4:15).
Pertanyaan: Mengapa penghukuman untuk pria dan wanita adalah sama dalam Qs.24, tetapi berbeda di Qs.4? Jadi disini ada 2 pertentangan ayat. Total sudah ada 168 pertentangan.
37. Siapakah yg menderita akibat dari konsekuensi dosa? Alquran menyatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap dosa yg diperbuatnya masing2 ( Qs.17:13-15, 53:38-42).
Hal ini bertentangan dengan:
Anehnya, Alquran menyalahkan orang2 Yahudi pada zaman Mhd karena dosa yang telah mereka lakukan 2000 tahun sebelumnya oleh orang2 Yahudi ketika menyembah Patung berhala Lembu Emas (Qs.7:152).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 170 pertentangan.
38. Disebut apakah kota Mekah? Umat Muslim berani mengatakan kota Mekah adalah kota suci dan rumah Allahnya Muslim.
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.17:1 mengatakan bahwa
Jadi disini sudah ada 1 pertentangan keyakinan dari umat Muslim, jadi total sudah ada 171 pertentangan.
39. Apakah orang2 Kristen/Nasrani akan ke sorga? Ya (Qs.2:62, Qs.5:69)
Hal ini bertentangan dengan:
Orang2 Kristen/Nasrani tidak akan ke sorga (Qs.3:85).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 173 pertentangan.
40. Apakah Raja Firaun tenggelam di laut atau selamat ketika mengejar nabi Musa dan umat Israel? Raja Firaun selamat (Qs.10:92).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Raja Firaun tenggelam di laut (Qs.28:40).
2. Raja Firaun tenggelam di laut (Qs.17:103).
3. Raja Firaun tenggelam di laut (Qs.43:55).
Jadi, disini sudah ada 3 pertentangan ayat yg saling bertentangan, jadi total sudah ada 176 pertentangan.
41. Khamar (
Hal ini bertentangan dengan:
1. Di sorga tersedia sungai-sungai dari khamar/arak (Qs.47:15).
2. Di sorga tersedia sungai-sungai dari khamar/arak (Qs.83:22-25) .
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 179 pertentangan.
42. Jin dan manusia, apakah diciptakan untuk menyembah Allah Muslim atau neraka? Jin dan manusia diciptakan hanya untuk melayani Allah Muslim ( Qs.51:56).
Hal ini bertentangan dengan:
Jin dan Manusia, beberapa di antara mereka diciptakan untuk menempati neraka jahanam (Qs.7:179).
Jadi, disini sudah ada 1 pertentangan, jadi total sudah ada 180 pertentangan.
43. Siapakah yg menyesatkan manusia? Setan (Qs.4:119-120, 5:42 ).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Allah Muslim berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88).
2. Suatu bencana datangnya berasal dari sisi Allah Muslim (Qs.4:78).
Jadi, disini sudah ada 4 ayat yg saling pertentangan. Total sudah ada 184 pertentangan.
44. Salah satu dari nama Allah Muslim adalah Mahatahu (Qs.4:24).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs..4:142 berkata: "Sesungguhnya orang2 munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka." (Allah ditipu?!)
Jadi disini sudah ada 1 pertentangan ayat, total sudah ada 185 pertentangan.
45. Apakah umat Muslim akan masuk ke neraka? Ya, umat Muslim sudah ditetapkan pasti akan mendatangi (masuk) ke neraka ( Qs.19:17).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim adalah jalan yg lurus (Qs.19:36) dan Quran adalah jalan yang lurus (Qs.5:16). Aneh! Pertanyaan: Jika Allah Muslim dan Quran adalah jalan yg lurus, lalu mengapa umat Muslim ditetapkan harus masuk ke neraka?
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 187 pertentangan.
46. Allah Muslim tidak menyukai orang2 yg melampaui batas/sewenang- wenang (Qs.5:87).
Hal ini bertentangan dengan:
1. Allah Muslim berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88). Allah Muslim sewenang2 untuk menyesatkan umat manusia?!
2. Allah Muslim memerintahkan umaatNya untuk membunuh dan Allah Muslim berkata: "Maka (yg sebenarnya) bukan kamu yg membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yg membunuh mereka …." (Qs.8:17).
Jadi, di sini sudah ada 2 pertentangan ayat, dan total sudah ada 189 pertentangan.
47. Allah Muslim adalah Petunjuk Jalan yg Lurus (Qs.19:36).
Hal ini bertentangan dengan:
1. "Barangsiapa yg disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan" (Qs.4:143).
2. "Dan barangsiapa yg disesatkan Allah, maka merekalah orang2 yg merugi." (Qs.7:178).
Jadi, disini sudah ada 3 pertentangan ayat. Total sudah ada 192 pertentangan.
48. Allah Muslim membenci orang kafir, orang yg berbuat sewenang-wenang dan orang syirik (Qs.8:55, 4:48, 4:116).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim menangguhkan (menahan) penghukuman terhadap orang2 kafir sehingga dosa2 mereka semakin bertambah?! (Lihat Qs.3:178).
Jadi, disini sudah ada 4 pertentangan ayat, total sudah ada 196 pertentangan.
49. Alquran mengatakan: "Tidak ada paksaan dalam agama Islam…" (Qs.2:256)
Hal ini bertentangan dengan:
1. Qs. 5:33 mengatakan dan memerintahkan kepada umat Muslim untuk membunuh, memotong tangan dan kaki, melakukan penyaliban, membuang (menyingkirkan/ memusnahkan) orang2 yg menolak Allah Muslim & RasulNya (Mhd) serta ajarannya.
2. Allah Muslim memerintahkan untuk memancung/memenggal kepala dan membunuh orang2 kafir (Non-Muslim) (Qs.47:4, Qs.9:5, Qs.8:12, Qs.8 :17, Qs.8:60, Qs.9:14, Qs.9:73, Qs.9:29, Qs.48:29, Qs.4:74, Qs.2:154, Qs.2:190-191, Qs.9:38, Qs.9:41, Qs.4:76).
Sampai disini sudah ada 16 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 212 pertentangan.
50. Qs.2:54 berkata: "Bunuhlah dirimu sendiri! Hal itu lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yg menjadikan kamu, maka Tuhan akan menerima taubatmu …"
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.4:29: " …Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu."
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 213 pertentangan.
Masih banyak sekali kontradiksi, pertentangan dan ketidakkonsistenan Alquran. Tetapi karena mengingat banyaknya, maka cukuplah sampai point ke-50 ini saja.
Kesimpulan:
1. Alquran itu banyak pertentangan ayat.
2. Alquran itu bukan wahyu Allah yg Benar (wahyu Palsu).
3. Alquran itu tidak perlu dipercayai/diimani.
4. Alquran itu tidak mengandung kebenaran.
5. Alquran itu bukan mujizat.
6. Alquran itu tidak sempurna.
7. Alquran bukan berasal dari sorga.
Ini berarti:
1. Allah Muslim tidak sempurna.
2. Allah Muslim bukan Tuhan Allah yg Benar.
3. Allah Muslim tidak dapat dipercaya.
4. Allah Muslim tidak pantas diimani.
5. Allah Muslim pembohong.
6. Allah Muslim hanya sosok "rekayasa" belaka.
7. Allah Muslim bukan berasal dari sorga.
by: Muhammad Yanis
Menyanggah pernyataan dr Debat Religious; sebelum Islam memang ada agama Tuhan (agama samawi) lainnya yang sering disebutkan dalam Al Qur'an yaitu Yahudi dan Nasrani, namun Islam adlah Penyempurna kesemua agama tersebut. Islam tidak hanya mengandalkan dimensi akal tetapi juga Iman, karenanya sesuai dengan tuntutan zaman. Keteladanan Muhammad SAW, sang pembawa agama penyempurna tersebut adalah bentuk sinergi antara seorang manusia yang beriman dan mengabdi pada Tuhannya. Sungguh Kemuliaan dan Keangungannya tidak akan berkurang sedikitpun hanya karena dikatakan bejat oleh orang yang berpikiran sempit dan picik. Anda perlu mencari kata - kata lain yang lebih masuk akal dan tidak mengada - ada. Terakhir saya ingin mengutip pernyataan Ary Ginanjar Agustian
Bukan Al Qur'an untuk Islam
Bukan dunia untuk Islam
Tapi Al Qur'an dan Islam untuk dunia
by: Muhammad Yanis
Islam Agama Penyempurna
by: Isyhadu bi ana muslimun